Posted by : Muh Naim Jumat, 21 Oktober 2016



Bintang Paling Terang
            “Mata yang Selalu mengantuk” itu adalah nama saya, nama yang selalu disebut sebut oleh teman saya, tapi memang benar, mata saya selalu terlihat mmengantuk seperti tidak tidur seharian. Nama saya Muh Naim, lahir di Takalar, 10 juli 1998, seorang Maba UNHAS prodi Statistika. Saya adalah Anak Ke lima dari enam bersaudara, sejak masih duduk di bangku TK, bisa dibilang keluargaku cukup sejahtera, Keseharian kami cukup bahagia dan menikmati masa masa kecilku yang manis nan ceria di kampung saya, Takalar.
            Dua Thun Kemudian, ayah saya pension dari pekerjaannya sebagai seorang PNS, waktu itu usia saya masih 8 tahun dan semua saudara- saudara saya masih bersekolah, tentu memerlukan biaya tanggungan yang tidak sedikit karena saya punya 5 saudara. Selama beberapa tahun keluarga saya hidup sangat sedehana, ibu saya adalah seorang penjahit tapi pekerjaan itu belum cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah dan kebutuhan sekolah, sehingga ayah saya mengambil kredit agar dapat mencukupi biaya sekolah kami waktu itu. Ibu saya sudah bekerja menjadi seorang penjahit, penjual campuran, penjual kue dan sebagainya, tapi pekerjaan itu selalu tidak bertahan lama karena permasalahan modal usaha yang tidak kembali. Ayah saya berusaha mencari tempat mengutang di warung- warung agar kami bias makan, ayah sya juga menyicil motor agar dapat mempermudah kebutuhan sehari hari.
            Dalam selang beberapa bulan, keluarga kami kembali terpuruk dalam masalah kebutuhan, jadi tidak heran jika kami terkadang makan hanya dengan lauk air garam, ibu saya sering menangis setiap melihat kami makan dengan lauk tersebut jadi orang tua saya lebih memilih mengutang lagi di warung untuk membeli mie instant daripada harus melihat kami makan dengan air garam. Demi kebutuhan makan mereka harus menahan malu karena sering mengutang. Ibu saya mulai kesal dengan masalah kehidupan ini, ibu saya menjadi marah dan bertengkar dengan ayah saya, ketika saya masih duduk di bangku SD,ibu saya ingin meninggalkan rumah dan kembali ke saudara-saudaranya di Maros, tapi pada malam itu  ayah saya tidak ingin melepaskan ibu saya pergi begitu saja meninggalkan kami. Ia merebut ponsel ibu saya agar ibu saya batal berangkat, tapi alhasil, ibu saya makin marah. Ia mengejar ayah saya hingga keluar rumah dengan pisau yang ada di tangannya. Saya dan saudara saudara saya saat itu hanya bias menangis melihan kedua orang tua kami yang tidak akur. Tapi karena ibu saya tidak berhasil mengejar ayah saya, ia lantas kembali ke rumah dan tetap memutuskan untuk berangkat malam itu juga, dan ayah saya malam itu tidak pulang ke rumah karena takut akan di kejar lagi dengan ibu saya
            Beberapa minggu setelah kejadian tersebut, ibu saya terkadang kembali ke Takalar untuk melihat kondisi kami. Tapi saat itu hubungan kedua orang tua saya masih belum akur.
            Beberapa bulan kemudian pihak dari cicilan motor sering dating ke rumah, tapi karena ayah saya tidak punya uang ayah saya hanya bias menggadaikan barang barang yang ada dirumah, salah satunya ialah mesin jahit kesayangan ibu saya. Namun dengan tindakan tersebut ibu saya menjadi makin marah, ayah saya juga sudah tidak tahu harus apa agar dapat membayar cicilan motor.
            6 tahun kemudian, ayah saya resmi cerai dengan dengan ibu saya, saat itu saya berumur 15 tahun dan ibu saya menikah lagi. Doa saya terkabul karena kejadian tersebut kedua orang tua saya dapat akur kembali. Lebih baik seperti ini daripada harus melihat mereka terus bertengkar. Berbicara tentang doa, saya punya banyak sekali doa, doa saya telah terkabul beberapa kali, contohnya saja saya telah berhasil lulus di UNHAS dengan prodi Statistika, saya sangat senang Allah mengabulkan doaku, dan yang paling membuat saya senang adalah saya juga lulus beasiswa bidikmisi, itu sungguh keajaiban, saya sangat bersyukur Allah mengabulkan doa- doa saya. Dengan beasiswa tersebut saya bisa membantu orang tua saya untuk biaya kuliah dan makan di kosan
            Setelah menjadi penerima bantuan dari pemerintah ini, maka saya harus terus menorah prestasi di bidang akademik maupun non akademik, saya ingin membuat kedua orang tua sya tersenyum lebar sambil memeluk saya dan berkata bahwa mereka bangga punya anak sepertiku
            Saya teringat betapa kerasnya perjuangan kedua orangtua saya memenuhi kebutuhan anaknya ini, mereka mengajarkan betapa kerasnya kehidupan, mereka mengajarkan betapa berharganya sebuah keluarga, mereka mengajarkan pengetahuan- pengetahuan yang tidak diajarkan di sekolah, mereka adalah yang terbaik.
            Maka dari itu saya bercita-cita menjadi orang yang berprestasi, menjadi orang yang sukses, menjadi pegawai teladan di kantor dan mempunyai jabatan sebagai seorang pemimpin, seorang pemimpin di kantor Badan Pusat Statistika. Akan kubuat orangtua saya menangis bahagia melihat saya menjadi sosok yang mereka dambakan, akan ku raih mimpiku, tidak hanya membahagiakan kedua orangtuaku tapi juga seluruh sahabat sahabat yang telah mendukungku dari belakang. Saya ingin menjadi “bintang yang paling terang” di antara mereka, akan kubuat indonesiaku bangga atas prestasi-prestasiku. Saya ingin berguna bagi keluarga, sahabat, dan teman-teman yang belum saya temui karena kita dapat dikatakan sukses jika kita berguna bagi orang lain, dan dengan program beasiswa bidikmisi ini saya ingin mempunyai prestasi sebanyak mungkin dan berguna bagi Indonesiaku ini
Created by : Muh Naim (Statistika Unhas)

{ 4 komentar... read them below or Comment }

Popular Post

Translate

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © 2013 Aku Pernah Ganteng -Sao v2- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -